Showing posts with label blog. Show all posts

A (Litte Bit) Story About (My) Life

No Comments »




Bagi siapapun, tinggal di Yogyakarta apalagi selama kurang lebih 12 tahun saat beranjak dewasa tentu akan meninggalkan sangat banyak kesan. Dimulai dari saya sebagai seorang pendatang yang di kampus (2006) tidak mempunyai banyak teman, sampai saya memilih jalan hidup menjadi seorang freelancer selepas selesai kuliah dan memutuskan "bekerja" di salah satu restoran dan lounge milik teman baik saya dan mencoba meninggalkan semua kenangan di kota berjuluk ‘Jogja Berhati Nyaman’ tersebut. Cerita akan dimulai dari sini.

Banyak sekali orang berkata lulusan IT tentu akan bisa mendapatkan pekerjaan yang mudah, punya banyak uang dan lain sebagainya. Jika di nalar, pemikiran itu memang benar, karena saat ini dunia IT bisa dibilang memegang kunci penting dalam industri di seluruh dunia. Namun, harapan tersebut tentu akan menjadi omong kosong belaka ketika kamu tidak menikmati bekerja secara profesional di bidang tersebut, dan celakanya saya termasuk salah satu dari orang yang ada di golongan tersebut.

Sikap idealis dimulai pada saat saya berusia 24 tahun selepas kuliah,  dimana membawa saya untuk menjadi seorang freelancer selama kurang lebih 6 tahun lamanya dengan tidak bekerja secara profesional di bidang studi kuliah saya dan juga tidak bekerja di corporate atau goverment seperti kebanyakan teman-teman kuliah saya.

Saat itu saya memutuskan membuat media online sendiri, membuat sebuah label rekaman musik digital yang legal dan bebas unduh, membuat radio online dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kreatif lainnya, bahkan mendirikan sebuah perpustakaan dan memberikan pendidikan gratis setiap hari Minggu bersama 4 orang teman di kampus untuk warga salah satu dusun di Wonosari yang pendidikannya masih banyak tertinggal dengan pengumpulan dana melalui ngamen setiap hari Senin dan Kamis malam selama kurang lebih 1 tahun lamanya. Yang ada di pikiran saya saat itu: selagi saya masih muda, saya harus melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar saya - mengerjakan hal yang saya suka; karena jika sudah bekerja dengan orang lain apalagi di perusahaan, idealisme itu haruslah dipendam dalam-dalam dan tidak akan ada banyak waktu untuk melakukan ini itu, selain itu saya pun masih harus mencari tahu apa kelebihan yang saya punya selain catatan akademis di ijazah ditambah lagi saya juga merasa salah jurusan.

Saya masih bisa hidup dengan bekerja “serabutan”, apalagi di Yogyakarta yang memang serba murah ditambah kewolesan masyarakatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selama 4 tahun lamanya saya mencoba mengerjakan banyak hal dan semua ternyata dapat saya lewati dengan berusaha dan belajar sendiri, dengan menggali potensi apa yang sebenarnya saya miliki. Sempat menjadi fotografer, menjadi penulis dan jurnalis lepas, mengerjakan event, mengerjakan aktivasi-aktivasi digital dari brand-brand besar di Indonesia, dan menjadi marketing restoran yang mungkin kurang prestise untuk kebanyakan orang dipelajari sendiri secara otodidak karena memang tidak ada sama sekali basic pendidikan formal di bidang-bidang tersebut.

Namun realitanya, sebenarnya dengan bekerja serabutan seperti itu sangat berat untuk dapat “menghidupi”, apalagi jika kamu sudah memiliki pandangan yang lebih jauh lagi untuk masa depanmu sendiri yang lebih baik secara finansial, karena kita semua tentu tahu jika tingkat upah di Yogyakarta termasuk sangat rendah dibanding kota-kota lain di Indonesia, dan bekerja tidak tetap tentu juga akan memaksa kita untuk bisa mengatur keuangan yang dari awalnya sudah tidak menentu.

Catatan hidup baru akhirnya tertuang dalam garis hidup saya, dimana apa yang sudah saya kerjakan dan lakukan selama ini meskipun banyak juga yang memandang dengan sebelah mata, setidaknya sudah meninggalkan memori dan menjadi cerita untuk anak cucu saya di hari tua nanti. Setidaknya di masa muda saya sudah melakukan hal-hal yang saya mau, yang saya ingin tahu dan tentunya sudah melakukan sesuatu untuk orang-orang disekitar saya.

Saya sempat depresi kurang lebih 1 tahun lamanya setelah lulus kuliah di tahun 2011. Saat itu saya merasa ijazah dengan predikat kelulusan sangat memuaskan itu tidak berguna untuk melamar pekerjaan. Dari sekian ratus perusahaan yang saya lamar tidak satupun yang memberikan respon (saat itu saya melamar sesuai dengan akademis saya, yaitu IT, dan Jakarta masih terasa sangat mengerikan untuk dijamah, meskipun ada juga tawaran pekerjaan lintas disiplin ilmu di kota itu yang datang) sampai akhirnya memutuskan menjadi freelancer sembari mencari tau sebenarnya apa kelebihan, skill dan bakat yang saya miliki. Pencarian itu ternyata membuahkan hasil, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 6 tahun.

Hari ini, hidup saya dimulai di kota yang baru, di kota yang menurut banyak orang sebagai kota serba ada, yaitu Jakarta. Kepergian saya dari Jogja bisa dibilang sangat tiba-tiba, setelah saya memutuskan mendadak berhenti dari pekerjaan saya sebagai marketing dan content programmer di salah satu venue, setelah saya ditinggalkan pasangan saya, dimana sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menikah dengan dia di tahun ini. Tentu ini bukan perkara yang mudah setelah 12 tahun lamanya tinggal di zona nyaman dan kini semua angan-angan itu sirna begitu saja.

Kali ini, tidak cukup sulit bagi saya untuk mendapat panggilan pekerjaan, karena dalam waktu seminggu saja dari saya melamar, kurang lebih ada sekitar 10 perusahaan baik lokal maupun multinasional yang menghubungi untuk melakukan sesi interview kerja. Kondisi ini sangat berbeda dibanding saat saya baru lulus kuliah, dimana saat itu tidak satupun perusahaan yang saya lamar di bagian IT memberikan respon yang baik.

Kenapa bisa demikian? Akhirnya saya menemukan apa yang selama ini saya cari, saya sudah menemukan minat dan ketertarikan saya, dan saya melamar di perusahaan yang sedang membuka lowongan di bidang yang saya minati, ditambah portfolio yang lebih proper tentunya di di bidang tersebut.

Hal yang saya temukan dalam proses pencarian yang lama ini adalah: saya suka dengan musik, saya suka dengan dunia digital, saya suka bertemu dan berelasi dengan orang-orang baru, dan saya suka dengan industri kreatif. Selama 6 tahun lamanya saya mengasah minat dan bakat di bidang-bidang tersebut, dan kini setidaknya sudah membuahkan hasil.

Kini, saya bekerja di salah satu perusahaan digital asal California, Amerika Serikat yang berafiliasi dengan situs video terbesar di dunia, YouTube. Disini saya bertanggung jawab untuk konten musik, artist dari beberapa negara (Indonesia, China, Korea, Jepang, negara-negara di Amerika dan Eropa) dan juga mengatur kegiatan promosi digital para artist di platform tersebut. Tentu ini menjadi pekerjaan yang sangat sesuai dengan ketertarikan saya, dan saya membutuhkan waktu 6 tahun lamanya untuk bisa menemukan passion sampai bisa mendapatkan pekerjaan ini.

Bagi kamu yang sedang bingung dalam menentukan pilihan hidup, atau bingung karena sulit untuk mendapatkan pekerjaan, percayalah kalau sebenarnya tidak ada orang yang bodoh di dunia ini. Masalahnya, mau atau tidak kamu menjalani pilihan hidupmu saat ini dan apakah kamu menikmati dengan apa yang saat ini sedang kamu lakukan. Siapa yang tahu jawabannya? hati kecil kamu sendiri.


KA 
Apartemen Green Lake Northen Park, Jakarta Utara




Cara Membuat Siaran Pers Yang Benar

No Comments »



Mungkin banyak dari kalian sebagai event organizer ataupun musisi yang merasa kesulitan untuk mendapat akses publikasi di media untuk event yang digelar ataupun pengulasan profile dari band. 

Ada beberapa cara yang dapat dilaksanakan untuk mendapatkan publikasi di media, salah satunya adalah dengan membuat Press Release atau sering juga disebut dengan Siaran Pers. Namun tidak sedikit juga yang salah dalam membuat Press Release sehingga berita tersebut tidak termuat di media-media yang dituju. 

Siaran Pers adalah naskah berita atau informasi yang dibuat oleh praktisi humas ( Public Relations Officer) sebuah lembaga atau organisasi untuk dipublikasikan di media massa. Menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan menulis berita (news), seperti dilakukan para wartawan. 

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Siaran Pers: 

Struktur Naskah
Karakteristik dan struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita. Karakteristik siaran pers adalah memiliki “nilai berita” (news values), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik. 

Struktur penulisan siaran pers hakikatnya sama dengan dengan struktur naskah berita:
  1. Head (judul)
  2. Dateline (baris tanggal)
  3. Lead (teras berita)
  4. News body (tubuh atau isi berita)
Format Siaran Pers
 
Karena berasal dari lembaga formal, maka siaran pers umumnya juga formal. Ada format khusus dalam naskah siaran pers, salah satunya seperti disarankan Media College sebagai berikut:
  1. Bagian atas naskah berisi "Untuk Disiarkan Segera" atau "Untuk Disiarkan Tanggal ..."
  2. Headline. Judul siaran pers, layaknya judul berita yang harus menggambarkan isi siaran pers.
  3. Dateline. Baris Tanggal. Berisi nama kota dan tanggal.
  4. Body. Konten atau isi siaran pers, terdiri dari Lead (Teras) dan Tubuh Berita (Body).
  5. Info Lembaga. Di bagian akhir naskah, cantumkan informasi tentang lembaga atau instansi yang mengirimkan rilis.
  6. Informasi Kontak. Setelah itu, di bawahnya dicantumkan nama dan alamat lembaga, no. telepon, fax, email, website, termasuk CP (Contact Person) yang bisa dihubungi. (Contoh Rilis).
Naskah siaran pers sebaiknya:
  1. Ditulis dengan gaya penulisan berita.
  2. Jangan terlalu panjang – cukup satu lembar.
  3. To the point, langsung saja ke pokok masalahnya.
  4. Memenuhi unsur berita 5W+1H.
  5. Berikan lebih dari satu nomor kontak –nomor telpon kantor, kontak pribadi, HP, e-mail, dan fax.
  6. Jika perlu, seratakan ilustrasi foto, tabel, atau grafik atau bahan pendukung lainnya.
  7. Tuliskan pada kertas berkop-surat sehingga benar-benar resmi.

RSD2015 Yang Sedang Hangat-Hangatnya

No Comments »

Foto saya pinjam dari situs Deathrockstar.club
RSD atau yang biasa disebut dengan Record Store Day adalah event tahuan yang di gelar pada bulan April yang mana mempertemukan penikmat dan label yang membuat rilisan musik dalam bentuk fisik. Event ini bisa dibilang hajatannya anak muda masa kini karena kita bisa menemukan banyak sekali rilisan fisik mulai dari piringan hitam, kaset 2nd hand sampai dengan rilisan yang memang sengaja dirilis pada gelaran tersebut.

Di Indonesia sendiri RSD2015 tahun ini cukup hype keberadaannya, dimana sekitar 6 kota menggelar acara ini yaitu Bandung, Jakarta, Cirebon, Yogyakarta, Solo dan Malang (maaf jika ada yang terlewat). Sialnya saya melewatkan gelaran RSD2015 tahun ini dikarenakan cuaca buruk di Yogyakarta pada tanggal 18 April dan saya harus menemui seseorang dari Jakarta di salah satu hotel di daerah Prawirotaman, Yogyakarta.

Meskipun tahun ini saya tidak datang langsung ke gelaran ini, saya mengikuti perkembangannya melalui media sosial, terutama RSD2015 di Jakarta yang tahun ini di branding oleh sponsor rokok.

Kemarin saya membaca sebuah tulisan di Jakartabeat yang mengkritisi soal gelaran RSD2015 ini, dimana penulis beranggapan dengan masuknya pihak-pihak yang mainstream kedalam hajatan untuk penikmat rilisan fisik ini adalah awal kehancuran dari RSD itu sendiri.  Semalam saya sengaja melempar wacana ini  ke media sosial Path, dan ternyata cukup banyak juga yang menanggapi dengan opini pribadi masing-masing. Ada yang pro, ada juga yang kontra.

Menurut opini dan pendapat pribadi saya ini yah, gelaran se massive RSD tentu akan diminati oleh pihak sponsor, termasuk salah 1 sponsor rokok yang kemaren nge branding RSD2015 Jakarta karena sponsor tersebut memang sedang gencar dengan aktifitas-aktifitas yang digemari oleh anak muda.

Tidak ada yang salah dengan adanya sponsor di gelaran anak muda seperti ini. Kita semua tau untuk menyelenggarakan sebuah event tentu memerlukan biaya yang tidak murah, menyewa venue, alat musik dan segala kebutuhan lain tentu memerlukan biaya, meskipun kebanyakan acara yang mengedepankan azas kolektif pengisi acaranya memang tidak di bayar.

Dengan adanya sponsor seperti ini, tentu anggaran biaya tadi bisa di tekan, paling tidak panitia tidak perlu lagi banyak memikirkan bagaimana mengumpulkan uang dari kantong pribadi teman-teman mereka untuk menutup biaya sewa venue dan alat musik. Pengisi acara bisa jadi malah dibayar ketika ada sponsor yang masuk. Kontra nya adalah ada kecenderungan anak muda jaman sekarang bergantung dengan sponsor dalam membuat sesuatu,  karena pergerakan indie/independen itu pada awal dan dasarnya adalah DIY (Do It Yourself) dan melalui proses yang disebut dengan kolektif, bukan bergantung pada pemodal dan sponsor.

Hari ini saya juga membaca tulisan di situs deathrockstar, dimana venue menjadi pengap oleh keringat dan asap rokok. Di Indonesia merokok sepertinya memang sudah menjadi budaya tersendiri dan etika dari perokok di Indonesia masih perlu dikaji ulang. Maksud saya disini adalah seorang perokok harusnya dapat menghargai privasi orang lain yang tidak merokok. Karena itulah harusnya ada yang namanya area khusus merokok dalam suatu event, apalagi event tersebut disponsori oleh perusahaan rokok. Musik harusnya dapat dinikmati oleh semua orang, dan di gelaran seperti RSD2015 tentu penikmat rilisan fisik bukan hanya orang yang berusia 18 tahun keatas, contohnya dulu saya ketika masih duduk di bangku SMP sudah gemar menyisihkan uang saku hanya untuk membeli kaset. Namun karena sponsor yang masuk adalah perusahaan rokok, kebijakan 18+ jadi berlaku disini.

Bicara soal munculnya kritik terhadap label musik mainstream, menurut saya tidak ada salahnya label-label mainstream ikut berkontribusi di gelaran RSD ini. Dari nama acaranya saja "Record Store Day", tentu ini adalah hajatan untuk semua label rekaman fisik yang ada, tidak harus indie namun juga mainstream. Jika dibandingkan dengan RSD di Amerika tentu RSD di Indonesia sudah jauh berbeda, karena pangsa pasar RSD di Indonesia adalah penikmat musik indie, bukan band-band mainstream.










Show Your Colors Di The Parade 2015 Yogyakarta

No Comments »


Kalau ngomongin soal kesenian dan hal-hal yang berbau kreatifitas, kota Yogyakarta seakan enggak ada habisnya. Kita semua tentu tahu, Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang terkenal akan anak mudanya yang kreatif dan inovatif. Dengan sangat mudahnya kita bisa menemukan karya-karya seni di kota ini bahkan di tembok-tembok yang ada di sudut kota Yogyakarta.

The Parade sendiri adalah event tahunan yang di gelar di Yogyakarta, dimana berbagai macam komunitas kreatif bergabung dan berpameran bersama di event ini.

Kebetulan pada gelaran The Parade Tahun ini, saya mendapat undangan khusus dari teman-teman Sampoerna A dalam program #ShowYourColors untuk menikmati kota ini bersama beberapa teman-teman blogger dari Jakarta, yaitu teman lama saya Intan Anggita (@badutromantis), Motulz (@motulz) dan editor dari majalah NYLON Indonesia, Alexander Kusumapraja (@Alkupra). Kebetulan saya sudah mengenal dan pernah bertemu langsung dengan Intan dan Motulz, jadi bisa dibilang ini adalah ajang temu kangen bersama mereka berdua.  Untuk Alex sebelumnya saya sudah mengenal dia di media sosial dan pernah berkontribusi juga untuk majalah NYLON, tetapi ini adalah kali pertama bertemu secara langsung.

Selain menampilkan band-band indie lokal dan nasional, gelaran The Parade kali ini yang digelar pada 10-12 April 2015 di Jogja Expo Center (JEC) menyajikan doodling workshop selama 3 hari yang digelar di A Create booth dan didukung penuh oleh Sampoerna AMOTION dengan mengangkat tema ‘Show Your Colors’.

Doodling workshop yang digelar selama 3 hari ini menampilkan pemateri yang oke punya juga, sebut saja Farid Stevy Asta (Libstud, vokalis FSTVLST), Sari Sartje (seniman kontemporer, vokalis White Shoes and The Couples Company) dan Motulz (fotografer, visual artist) yang kebetulan berkolaborasi dengan teman saya Mahaputra Vito (Laurel Studio).  

Di workshop hari pertama yang diisi oleh Farid, peserta diminta menggambar apa yang pertama kali mereka liat di timeline media sosial twitter mereka. Medium yang digunakan Farid adalah kartu pos dan marker yang bewarna merah dan hitam. Salah satu ciri khas Farid memang karya-karya yang dia hasilkan kebanyakan menggunakan 2 warna ini, yaitu merah dan hitam.



Workshop hari kedua tidak kalah menariknya, karena Nona Sari mengajarkan bagaimana cara menggambar dengan menggunakan tinta tiongkok. Saya yang tidak berbakat menggambar ini cukup antusias menyimak pada workshop hari kedua, karena menggambar menggunakan kuas dan tinta tiongkok  terlihat sangatlah menarik. Salah satu hal penting yang saya dapat di workshop hari kedua yang mengangkat tema “Sketsa Tinta” ini adalah jangan pernah takut salah dalam menggambar atau membuat karya. Selama ini banyak orang yang takut dalam menggambar sehingga menggunakan  penghapus dan pensil, namun kali ini Sari langsung mengajarkan bagaimana menggambar menggunakan kuas yang hasilnya memang tidak bisa dihapus. Sama halnya dengan sidik jari, karya atau coretan yang dihasilkan antara satu orang dengan yang lain tidak akan pernah bisa sama, dan kita harus bangga akan hal itu, bangga akan apa yang kita kerjakan dan hasilkan, sama halnya dengan tema ‘Show Your Colors’ yang diangkat oleh Sampoerna AMOTION.



Pada workshop hari terakhir, Motulz mengajarkan tentang basic dalam drawing, yaitu membuat gambar kubus yang simetris hingga memenuhi medium gambar ukuran kertas A3. Saya perhatikan peserta workshop masih cukup kesulitan untuk memenuhi medium gambar dengan gambar kotak-kotak ini, nampaknya ada rasa takut-takut pada mereka saat menggoreskan  pena nya  ke medium gambar. Motulz kemudian meminta peserta untuk mewarnai gambar kubus yang sudah dibuat dengan 4 buah warna, yaitu warna hitam, merah, biru dan kuning dimana warna ini menunjukkan semangat ‘Show Your Colors’ yang diangkat oleh Sampoerna AMOTION. Setelah Motulz mengisi workshop, Mahaputra Vito mengambil alih tempat dengan memberikan workshop “ngeblat” dan menggabungkan objek pada medium kertas dengan menggunakan sample gambar yang diambil dari internet.



Selain seru-seruan dengan workshop dooling di A Create booth, masih ada keseruan lain di Stadion Kridosono karena disana juga dilakukan mural oleh para street artist Yogyakarta. Tembok stadion Kridosono yang biasanya terlihat kumuh oleh tempelan poster dan vandalisme kali ini terlihat penuh warna oleh mural dan graffiti.



               


Ada cerita lucu saat saya, Motulz, Ignes Dea (Maverick Indonesia), mbak Kesya dan mas Kukuh (representative HM.Sampoerna) menaiki odong-odong dari stadion Kridosono menuju ke JEC. Selepas proses mural memang ada pawai menggunakan odong-odong dan juga delman yang berwarna-warni dari stadion Kridosono menuju ke venue The Parade di JEC. Meskipun saya sudah sekitar 9 tahun tinggal di Jogja, ini adalah pertama kalinya saya naik odong-odong. Di Jogja kita bisa menemukan odong-odong berwarna-warni ini di alun-alun Kidul (Alkid) setiap harinya. Pengalaman perdana naik odong-odong ini menjadi sedikit menguras tenaga karena ditengah jalan odong-odong yang saya naiki salah satunya bannya pecah dan meletus. Alhasil saya dan mas Kukuh harus sedikit “berolahraga malam” pada malam minggu itu (11/4) untuk mencapai garis finish di JEC.  



Selain mengikuti workshop, pengunjung The Parade juga bisa melakukan kegiatan lain di A Create booth seperti body painting, colorful barbershop serta proyek do-it-yourself, dimana pengunjung dapat mewarnai dan menggambar T-shirt serta dompet kulit sesuai selera warna mereka.





Di Minggu pagi setelah menikmati sarapan di soto Kadipiro yang cukup terkenal di Yogyakarta, Saya, Motulz, Alex dan Intan didampingi representative dari HM.Sampoerna dan Maverick Indonesia mengunjungi jembatan Gondolayu di Kali Code. Kali Code adalah salah satu spot di Jogja yang terkenal karena pola hidup masyarakatnya sangat tertata dengan baik meskipun mereka tinggal di pinggiran sungai. Masyarakat disana melakukan berbagai macam bentuk kearifan lokal dengan menjaga kebersihan sungai dan juga lingkungan sekitarnya, terdapat beberapa sanggar seni dan berbagai macam mural dapat dengan mudahnya ditemukan di kampung yang berdiri disepanjang sungai Code. Dari atas jembatan Gondolayu, kita dapat melihat bangunan berwarna warni yang cerah dan ceria, menggambarkan semangat ‘Show Your Colors’ yang disampaikan oleh Sampoerna AMOTION.


Akhir pekan kemarin telah menjadi salah satu momen bahagia di hidup saya, bertemu teman-teman baru yang kreatif dan teman-teman lama seperti Motulz dan Intan, sangatlah menyenangkan! Life just once, just go ahead, enjoy your passion and #ShowYourColors!

*Foto merupakan dokumentasi pribadi saya dan Ignes Dea


LELAGU, Sebuah Kebersamaan Yang Menjadi Identitas di Yogyakarta

Read more » | No Comments »


Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang sebuah proyek pertunjukan panggung pertama saya. LELAGU, yang memiliki arti sederhana yaitu "bebunyian" atau "nyanyian" yang dalam bahasa jawa biasa disebut dengan "lelagon" ini adalah sebuah bentuk pertunjukan musik akustik yang berkolaborasi dengan seni rupa dalam satu panggung yang sama. 

Konsep dan ide awal LELAGU terbentuk satu tahun yang lalu, dimana saya bersama KANALTIGAPULUH pada saat itu ingin membuat sebuah event off air sebagai bentuk brand activation dari media kami, namun masalah yang timbul adalah kami tidak memiliki bugdet untuk memproduksi sebuah event secara reguler. Bak gayung bersambut, Kedai Kebun Forum menawarkan tempat dan segala fasilitas yang ada untuk dapat kami gunakan secara gratis, dimana Kedai Kebun Forum adalah sebuah ruang alternatif yang bergerak dalam bidang seni rupa, dan KANALTIGAPULUH pada saat itu bergerak sebagai media musik dan radio online.

Berbaur Menjadi Satu di Walk The Folk

Read more » | No Comments »


Malam ini Yogyakarta dilanda hujan deras, dimana sebenarnya ada pertunjukan musik menarik LELAGU di Kedai Kebun Forum dan saya pun tidak bisa kesana karena ada beberapa tanggungan pekerjaan dan kondisi badan yang kurang fit. Saya jadi teringat pengalaman seru tahun lalu setelah mendengarkan live streaming LELAGU via radio pamityang2an, dimana saat ini Layur, Jimi dan Gigih sedang memainkan komposisi musiknya, dimana nanti masih ada FRAU yang akan menutup LELAGU pada malam hari ini.

Sejenak meninggalkan LELAGU, saya ingin berbagi sedikit cerita soal "Walk The Folk" yang diselenggarakan pada 26 November 2014, sebuah acara incidental yang diadakan oleh teman-teman Folk Afternoon dan Lir Shop Yogyakarta tahun lalu. Saya teringat sesuatu setelah streaming LELAGU malam hari ini dan akhirnya membuat sebuah tulisan singkat tentang pengalaman saya bersama "Walk The Folk" ini.

Jurnalisme Copy - Paste

Read more » | No Comments »


Hari ini saya lagi-lagi dikejutkan oleh munculnya sebuah artikel berita musik disalah satu website brand rokok ternama di Indonesia yang lagi-lagi menduplikasi artikel serupa yang telah dimuat di media lain. 

Saya menemukan kedua artikel ini ditulis sama persis sebanyak 3 paragraf sesaat setelah browsing di internet mengenai perilisan album kompilasi Kami adalah Rabu: Tribute to RABU yang belum lama ini dirilis oleh teman saya Mindblasting Netlabel.

Netlabel dan Industri Musik Yang Tak Pernah Akur

Read more » | No Comments »


Beberapa hari ini nampaknya kembali timbul geliat antara pro dan kontra netlabel (internet label) dan juga industri musik yang sepertinya sulit untuk akur. Seorang teman dari Jakartabeat membuat sebuah tulisan yang bisa dibilang cukup menyindir pernyataan dari Widi Asmoro dan Robin Malau 'netlabel Indonesia sekedar jargon  dan para pelaku netlabelnya sebagai oksimoron’ (http://jakartabeat.net/kolom/konten/mau-kemana-netlabel-kita-tanggapan-untuk-widi-dan-robin).

Java Soundsfair, Art dan Music Festival dari Java Festival Production

Read more » | No Comments »

Di penghujung bulan Oktober tahun ini, tepatnya pada tanggal 24-26 Oktober Jakarta kembali diramaikan dengan festival art n music berskala internasional, sebut saja Java Soundsfair.

Menurut penuturan Dewi Gontha saat konferensi pers di Sultan Hotel pada hari Kamis (23/10), Java Soundsfair bukanlah bentuk festival musik baru yang merupakan penggabungan dari Java Rockingland dan juga Java Soulnation. Banyak pihak yang bertanya-tanya sebelumnya termasuk juga saya apakah memang festival baru ini merupakan penggabungan 2 festival tahunan dari JFP tersebut, karena pada tahun ini memang Java Soulnation dan Java Rockingland tidak digelar, dengan alasan waktu pelaksaan yang terlalu mepet dengan pesta demokrasi di Indonesia dan juga festival-festival internasional di Eropa dan Jepang.

Soundrenaline Blogwalking Tour 2014, Pengalaman Menarik dalam Menikmati Festival Musik

No Comments »



Bulan lalu saya mendapat kesempatan untuk bergabung dalam Blogwalking Tour untuk gelaran Soundrenaline 2014. Meskipun hanya berkesempatan untuk mengikuti blogwaking di Surabaya (Soundrenaline tahun ini digelar di 2 kota, Surabaya dan Medan) saya cukup senang dengan diikut sertakan dalam pengalaman menarik dalam mengikuti gelaran festival musik terbesar di Indonesia ini. Saya akan menceritakan beberapa hal yang saya dapatkan setelah mengikuti Soundrenaline Blogwalking 2014 di Surabaya.

Ini adalah pengalaman pertama saya dalam mengikuti Blogwalking di event manapun, dan untuk suatu event / festival musik, konsep seperti ini tentulah sangat menarik. Ada banyak hal yang bisa di dapat dan tidak bisa di dapat oleh penonton biasa yang membeli tiket pertunjukan sebuah festival musik. Sebagai jurnalis dan blogger, dengan adanya Blogwalking tentu secara tidak langsung akan menambah relasi mereka, entah ke pihak agency / promotor dan relasi ke sesama jurnalis dan blogger yang mengikuti gelaran tersebut. 

Meskipun banyak yang bilang saya cukup pendiam di awal tetapi akhirnya saya mendapat teman-teman baru dari Maverick, beberapa jurnalis media online – cetak nasional, dan rekan-rekan blogger seperti Dimas Ario, Kang Motulz dan Agung Hartamurti. Untuk Agung, media online saya (KANALTIGAPULUH) memang ada afiliasi dengan media milik dia (IROCKUMENTARY) tetapi baru ini kami mendapat kesempatan untuk bertemu langsung, karena meskipun saya cukup sering ke Jakarta juga untuk meliput beberapa festival musik disana, saya belum mendapat kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan si Agung ini. Saya juga sangat senang karena sangat kebetulan bisa bertemu sahabat lama saya yang ternyata saat ini menjadi Manager dari band Stereocase dan Promotions dari band GIGI. 3 tahun lamanya kami tidak bertemu, dan bertemu di Soundrenaline kali ini tentu menjadi semacam kejutan lain yang sama sekali tidak saya duga.

Kedua, saya jadi lebih tau banyak tentang kota yang kami kunjungi, yaitu Surabaya. Sebagai anak yang dibesarkan di kota Malang, tentu Surabaya tidak terlalu asing dengan saya. Tetapi dengan berbagai agenda kunjungan seperti ke Museum Kapal Selam dan House of Sampoerna itu menjadi pengalaman unik buat saya. Sebagai orang yang cukup sering datang ke kota Surabaya, saya malah belum pernah mengunjungi tempat-tempat ini. Ulasan singkat tentang kunjungan kami ke Museum Kapal Selam dan House Sampoerna bisa dibaca disini.

Terakhir, tentu event Soundrenalinenya sendiri. Tema Voice of Choice tentu menjadi tema yang menarik ditengah panasnya panggung politik Indonesia menjelang pemilihan umum pemimpin Negara ini. Meskipun line up semacam GIGI, SLANK dan KOTAK akhirnya tidak bisa membawakan “the best song list” mereka, dari sisi band nya tentu akan cukup tertantang untuk bisa membawakan full track dari album yang terpilih untuk dibawakan berdasarkan proses voting dari audience. Dari sisi performer, ini bisa menjadi hiburan disela kebosanan mereka dalam membawakan lagu yang itu-itu saja, dan dari sesi penonton ini bisa menjadi semacam nostalgia karena Slank membawakan album lamanya, yaitu album tujuh yang dirilis pada tahun 1998. Ulasan singkat dan dokumentasi foto tentang Soundrenaline Voice of Choice 2014 di Surabaya dapat dibaca dan dilihat disini, saya juga sempat menulis tentang timeline Soundrenaline  yang juga bisa dibaca disini dan sebuah tulisan tentang Soundrenaline secara umum yang bisa dibaca disini. Tahun lalu saya juga datang ke Soundrenaline di Yogyakarta, namun tentu pengalaman yang saya dapat jauh berbeda saat mengikuti blogwalking tour dan menjadi penonton biasa. Untuk foto-foto saya saat menyaksikan Soundrenaline 2013 di Yogyakarta bisa di simak disini

Semoga dilain kesempatan saya bisa mengikuti Blogwalking selanjutnya, ini menjadi salah satu pengalaman unik saya dalam meliput dan menonton suatu konser / festival musik, karena selama ini hanya Soundrenaline yang concern dalam menggelar Blogwalking Tour dalam tiap gelaran eventnya.

Pada akhirnya, Soundrenaline Blogwalking Tour menjadi memiliki suatu nilai lebih, karena untuk menikmati sebuah festival musik tidak hanya berdasar pertunjukan musiknya saja, tetapi ada banyak hal / pengalaman lain yang bisa di dapat saat mengunjungi kota dimana festival musik tersebut di gelar, dan Sampoerna A dengan sukses menyajikan semuanya dalam Soundrenaline Blogwalking Tour.

Soundrenaline: Penyegar Monotonnya Hiburan Panggung di Indonesia

Read more » | No Comments »



Penurunan drastis dari industri musik di Indonesia jelas terlihat sekitar satu dekade terakhir ini. Sajian musik di televisi saat ini hanya menjual kuantitas daripada kualitas dari musik yang disajikan, saya cukup rindu dengan sajian dari MTV era 90an dimana banyak sekali band-band lokal yang bagus ditayangkan disana.
Untuk pertunjukan musik, di Indonesia tentu selalu ramai dengan pentas panggung di tiap akhir pekannya, entah itu panggung musik independen ataupun konser musik di  panggung dengan kualitas sound dan audio yang luar biasa. Namun sedikit dari sekian banyak festival musik yang menyajikan band-band papan atas lokal, kebanyakan band lokal di festival musik hanya menjadi “pembuka” dari band utama yang biasanya datang dari negeri seberang.

Soundrenaline Blogwalking Tour 2014: Surabaya!

No Comments »


Minggu lalu saya mendapat kontak dari Maverick Indonesia untuk mengikuti Blogwalking Tour Soundrenaline 2014 di Surabaya pada 9-11 Mei 2014. Saya datang  kepagian saat akan check in di bandara Adisucipto, dan sesampai di bandara ternyata tiket pesawat saya sudah di check in kan oleh Mesthi, wartawan harian Kedaulatan Rakyat yang juga satu pesawat dengan saya dengan tujuan yang sama, hanya saja dia memang mendapat tugas untuk melakukan peliputan festival musik tersebut. Sekitar pukul 9 pagi kami terbang menuju Surabaya menggunakan pesawat Wings Air, seharusnya maskapai Garuda Indonesia yang akan kami naiki, sayangnya engga ada jalur penerbangan dari Jogja – Surabaya di maskapai tersebut, kami harus transit di Jakarta / Bali terlebih dahulu, jadi Wings Air lah yang dijadikan pilihan. Saya satu pesawat juga dengan rombongan Shaggy Dog yang juga akan perform di Soundrenaline kali ini.

Sekitar pukul 10 pagi saya sampai Surabaya dan dijemput oleh Fikar, salah satu PIC dari Maverick dan langsung meluncur ke rumah makan Bu Rudi sembari menunggu rombongan blogger lain dari Jakarta yang baru berangkat pukul 10 pagi dari Soekarno-Hatta, Jakarta. Surabaya benar-benar membuat saya mandi sauna, terlebih sekitar 2 jam masih harus menunggu teman-teman dari Jakarta sampai di warung Bu Rudi. Warung ini sangat ramai, saya dulu pernah kesini juga bersama keluarga dan warung ini memang terkenal dengan sambalnya yang diberi nama Sambal Bu Rudi. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Fikar, ternyata dia berasal dari kota Malang juga, obrolan kami berdua menjadi sedikit cair setelah mengetahui kalau kami ternyata berasal dari kota yang sama.

Sekitar pukul 1 siang rombongan dari Jakarta sampai di warung Bu Rudi, ada Motulz, Agung Hartamurti dan Dimas Ario. Masih ada 1 orang lagi yang seharusnya bergabung, tetapi Iman Fattah baru esok harinya akan datang menyusul ke Surabaya. Pendamping tim rewo ini adalah mbak-mbak asal Semarang yang kuliah di Bandung dan sekarang bekerja di Maverick Jakarta dan sekilas mirip dengan gebetan saya jaman SMP , sebut saja dia Meta. Tidak banyak basa basi, sekitar jam 2 siang kami berlima meluncur ke House of Sampoerna, sebuah museum yang menceritakan sejarah dari perusahaan rokok Sampoerna dan Dji Sam Soe.



Aroma tembakau sangat menyengat di dalam museum ini, dengan ditemani seorang tour guide, kami dijelaskan tentang asal muasal terciptanya rokok Dji Sam Soe. Yang menarik disini adalah kami ditunjukkan video tentang proses melinting tembakau dan proses packagingnya, benar-benar gila menurut saya ketika seorang buruh linting harus bisa menyelesaikan sekitar 150 bungkus rokok dalam waktu kurang dari satu jam saja. Rata-rata buruh yang dipekerjakan di perusahaan ini sudah memiliki pengalaman diatas 5 tahun.


Motulz adalah orang yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap heritage, sepanjang perjalanan tidak hentinya dia bercerita tentang gedung-gedung dan bangunan bersejarah di kota ini. Meskipun orang tua saya adalah dosen dan guru Sejarah Indonesia, saya sendiri malah kurang memiliki banyak pengetahuan dibanding si Motulz ini, jadi lebih banyak saya menjadi seorang pendengar yang baik sembari pengamati bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda yang memang masih banyak berdiri di Surabaya dari dalam mobil.
Sebelum check in di Somerset Hotel, kami sempatkan mampir sebentar untuk menikmati ice cream di Zangrandi Ice Cream. Tempat ini mengingatkan kami akan Ragusa di Jakarta dan Toko Oen di Malang. Arsitektur gaya Belanda dengan sajian ice cream ala tempo dulu (sepertinya sih begitu) semakin membuat kami berlima semangat untuk menjajal menu yang disajikan ditempat ini. Sayangnya ice cream nya sangat cepat mencair, kami pun harus segera menghabiskannya dalam waktu kurang dari 10 menit saja. Sedih juga menikmati ice cream dengan sangat terburu-buru seperti ini.

Setelah check in dan beristirahat sejenak di Somerset Hotel, kami pun meluncur ke “Duck Hand Wood” atau warung Bebek Kayu Tangan untuk makan malam bersama seluruh team dari Maverick Indonesia dan Sampoerna A yang datang ke Surabaya. Bebek goreng yang saya pesan cukup lunak dagingnya, dan rasa rempah-rempah dari bumbu yang digunakan cukup berasa di lidah saya. Setelah makan malam, Saya, Dimas dan Agung berpisah dengan Motulz dan rekan-rekan yang lain karena memilih untuk beristirahat di hotel. Kami bertiga melanjutkan perjalanan untuk menemui teman dari Jakarta di Artotel Hotel dan singgah di SUTOS sejenak untuk melihat persiapan dari event Sunday Market yang digelar disana selama 2 hari kedepan. Sebelum kembali ke hotel, kami bertiga dan 2 orang lagi dari Irockumentary Surabaya mampir sejenak di salah satu beer house yang sayangnya saya lupa apa nama tempatnya, kayaknya sih ini semacam salah satu spot anak gaul Surabaya, banyak hipster di tempat ini.

Esok paginya saat saya menuju ruang breakfast bareng Putra, fotografer Rolling Stone Indonesia dari kota Malang yang sekamar dengan saya, saya kaget setengah mati saat memasuki ruangan tersebut. Saya bertemu seorang teman lama yang bisa dibilang dia adalah sahabat saya jaman SMA yang sudah putus kontak, karena memang cewek ini hobi banget berganti-ganti nomor handphone. Debrina, teman lama saya ini ternyata saat ini menjadi promotions dari band GIGI, dia  ternyata juga menjadi manager dari band Jakarta Stereocase. Banyak hal yang kami bicarakan seperti obrolan tentang masa lalu dan kesibukan kami saat ini.

Sekitar jam 10 pagi saya lanjut bersama geng rewo dan Meta ke Museum Kapal Selam, Putra meneruskan perjalanannya sendiri langsung ke venue Soundrenaline untuk bertemu jurnalis Rolling Stone yang sudah menunggu disana. Kapal selam ini dibuat oleh Rusia dan mulai beroperasi sekitar tahun 1960 an, sedikit disayangkan tidak ada tour guide di museum ini, sehingga kami tidak tau banyak tentang sejarah dan latar belakang dari kapal selam ini.



Sebelum ke Lenmarc Park untuk mengikuti gelaran Soundrenaline kami mengisi perut terlebih dahulu di warung Rawon Setan. Emang iya setan bener deh ini rawon, ada sekilo sendiri kali ini daging seporsinya! Ceteluk Meta yang makan disebelah saya. Entah kenapa juga warung ini dinamai warung setan, mungkin karena dekat dengan gedung setan, gedung jaman Belanda yang sekarang digunakan menjadi salah satu outlet jam tangan SEIKO dan ALBA di Surabaya yang konon katanya adalah gedung pertemuan untuk rapat Freemason di kota ini.




Sekitar pukul setengah 2 pagi Soundrenaline Surabaya selesai, kami pun langsung balik ke hotel Somerset untuk beristirahat, karena travel saya ke kota Malang datangnya jam 8 pagi jadi saya engga punya banyak waktu untuk beristirahat, sedangkan teman-teman yang lain baru akan balik ke Jakarta sekitar pukul 11 siang.

Perjalanan seru dan menyenangkan karena saya akhirnya bertemu kawan lama yang tidak saya duga akan bertemu di event Soundrenaline ini, terimakasih Maverick Indonesia, terimakasih Sampoerna A J

#GoAheadChoice




Perancangan Dasar Dalam Menjalankan Media

Read more » | No Comments »



Tulisan ini akhirnya muncul setelah beberapa hari yang lalu beberapa orang ‘memaksa’ saya untuk menulis tentang “mengapa media independen di Indonesia banyak yang tidak bertahan lama”. Media independen  menurut saya adalah sebuah media yang berdiri sendiri tanpa ada tendensi dan kepentingan dari pihak manapun, terutama dari pihak pemodal.

Saya akan bagi sedikit disini mengapa banyak media independen, untuk musik khususnya yang tidak bisa long lasting di Indonesia.  Tingkat kreatifitas dan semangat anak muda untuk berkarya di Indonesia memang sangat tinggi, namun terkadang ada beberapa faktor pendukung yang tidak dipikirkan pada saat akan mendirikan sebuah media

Loveless

No Comments »


Close my eyes
Feel me now
I don’t know maybe you could not love me now
You will know, and her feet down to the ground
Over there, and I want true love to love
You can’t hide, oh no, from the way I feel

Turn my head
Into sound
I don’t know when I lay down on the ground
You will find the (way it) hurts to love
Never cared and the world turned hearts to love
You will see, oh now, oh the way I do

You will wait
See me go
I don’t care when your head turned all alone
You will wait when I turn my eyes around
Overhead when I hold you next to me
Overhead, to know, oh the way I see

Close my eyes
Feel me how
I don’t know maybe you could not hurt me now
Here alone when I feel down too
Over there when I await true love for you
You can hide, oh no, oh the way I do
You will see, oh now, oh the way I do

Ketika Pandangan Saya Berubah Dalam Secangkir Kopi

No Comments »



Saya bukan seorang coffee addict, saya hanya suka menikmati kopi disaat-saat tertentu saja. Kopi instant masih menjadi pilihan saya selama ini karena harganya yang terjangkau dan cara penyajiannya yang mudah, karena memang saya tidak punya mesin pembuat kopi sendiri. Namun pandangan saya tentang cara menikmati secangkir kopi mendadak berubah setelah datang berkunjung ke Klinik Kopi.

Saya penasaran dengan suatu tempat di jalan Affandi Yogyakarta yang bernama Klinik Kopi setelah seorang teman menulis review tentang tempat itu di internet. Ditempat ini kita bisa memilih beragam jenis kopi yang ada di Indonesia dan oleh mas Pepeng (founder Klinik Kopi) kita akan dijelaskan bagaimana cara menikmati kopi yang baik, jenis-jenis kopi yang ada dan cara pembuatan kopi sampai tahap siap untuk disajikan.

Saat datang kesana untuk pertama kalinya, saya dan Daphne sempat bingung karena pikiran awal kami tempat ini seperti coffee shop pada umumnya, tetapi ternyata tidak. Bangunan seperti aula 2 tingkat dengan halaman yang sangat luas dengan pepohonan jati yang rimbun ditambah suara-suara hewan antah berantah yang ternyata memang dipelihara disana seakan merubah stigma kami bahwa sebenarnya sedang berada di tengah Yogyakarta yang sudah mulai carut-marut ini, tetapi suasana yang dibangun disana seakan membawa kami ke alam pegunungan dengan pepohonan jati yang rindang.

Setelah dijelaskan tentang karakter dari masing-masing kopi dan memilih jenis kopi mana yang ingin saya minum, selagi menunggu kopi yang saya pilih disajikan oleh mas Pepeng, sempat terbesit dikepala saya "wah ini pasti tarifnya bakal mahal", ya karena setau saya secangkir kopi asli yang di brewing langsung dari bijinya di coffe shop memang cukup mahal harganya, apalagi di tempat ini kita hampir bisa menjumpai semua jenis biji kopi yang ada di Indonesia dan bebas memilih untuk menikmatinya. Cara menikmati kopinya pun unik, saya dan Daphne ditanya kopi instant apa yang biasa kami minum, setelah menyebutkan 2 merk kopi instant ternama mas Pepeng pun menyeduhkan kopi tersebut dan meminta kami untuk mencium aromanya, tidak untuk meminumnya. Ini adalah moment dimana persepsi saya berubah tentang cara menikmati secangkir kopi selama ini. Kopi instant lebih tepatnya.

Dengan membandingkan aroma dari kopi yang asli dan kopi instant, seketika muncul di kepala saya tentang kengerian akan bahan-bahan kimia yang saya konsumsi selama ini saat menikmati secangkir kopi instant. Saya susah menjelaskan aroma seperti apa yang dimaksud disini, yang jelas saya sangat menikmati aroma dari kopi yang asli, dan rasa yang diberikan juga jelas sangat berbeda dengan kopi instant. Ditempat ini juga tidak disediakan gula, jika tidak tahan pait disediakan susu disana, dan beberapa camilan seperti pisang dan singkong goreng.

Buat kalian yang suka minum kopi tapi masih terjebak dengan kopi instant, saya sarankan untuk coba datang ke Klinik Kopi, harga yang ditawarkan untuk secangkir kopi ternyata juga sangat terjangkau hanya 10.000 rupiah saja, selain itu kita juga mendapat edukasi tentang bagaimana cara menikmati kopi yang baik.


LELAGU, Festival Seni Mencari Haryadi dan Jogja Ora Di Dol

No Comments »



LELAGU, Festival Seni Mencari Haryadi dan Jogja Ora Di Dol. 3 hal ini sedang cukup ramai dibincangkan masyarakat di Yogyakarta. LELAGU, bentuk seni pertunjukan reguler yang memberikan warna baru untuk skena musik dan  seni di Jogja. Penggabungan konsep musik akustik dan perupa dalam satu pertunjukan tentu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Festival Seni Mencari Haryadi, merupakan gerakan komunal dari seniman yang ada di Jogja dalam menyikapi kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak menguntungkan bagi masyarakat Jogja, dan Jogja Ora Di Dol adalah salah satu bentuk respon yang diberikan oleh seniman  terhadap festival ini dengan membuat mural yang berujung proses pidana terhadap seniman yang bersangkutan.

 Saya bukan seniman, saya juga bukan musisi, saya hanya penikmat musik dan kesenian yang ada  di Jogja, orang yang menikmati Jogja dengan segala kesederhanaannya, orang yang memulai studi di kota ini sejak 8 tahun lalu dan memutuskan untuk tetap bertahan disini daripada menyambung hidup di Jakarta seperti mayoritas teman kampus saya. Saya hanya orang biasa yang memiliki banyak teman dari golongan musisi dan seniman di kota ini, maka dari itulah saya bersama teman-teman membuat projek pertunjukan yang bernama LELAGU, selain saya juga memiliki sebuah media underated di kota ini. 

LELAGU #4 (11/10/2013) kali ini memang bisa dibilang ditunggangi oleh pihak lain yaitu Festival Seni Mencari Haryadi, silahkan masyarakat yang menilai. Yang jelas, kami disini hanyalah berkesenian dengan merespon hal tersebut dengan mengambil tema "Ode Buat Kota", yang bentuk acara nya tidak ada unsur SARA, namun kalau dibilang provokatif, itu pendapat masing-masing personal yang datang menonton pertunjukan tersebut malam tadi.  

Jogja Ora Di Dol. Sebuah kalimat singkat yang membuat sikap reaksioner dari pemerintah kota Jogja. Saat ini Jogja memang sedang mengalami perkembangan yang luas biasa, dari segi tata kota nya. Banyak mall yang mulai dibangun, dan juga hotel-hotel mewah. Jogja memang tidak bisa menghindar dari arus globalisasi, namun ada baik nya pemerintah disini juga melihat latar belakang dari Jogja itu sendiri, yaitu kota pelajar dan kota seni. Jogja bukan kota metropolitan, saya rasa pembangunan fisik seperti yang saya sebutkan diatas tidak tepat untuk kota yang berhati nyaman ini. Event budaya tahunan Jogja Java Carnival yang dihapus, komunitas sepeda Sego Segawe yang juga dihapus, kesewenang-wenang an pemerintah kota dalam menerapkan aturan periklanan di public space dan masih banyak lagi. Wujud respon masyarakat dan seniman dengan tagline Jogja Ora Di Dol salah satu nya adalah dengan merespon kebijakan-kebijakan sepihak pemerintah yang seperti itu. Dengan di pidanakan nya Arif, salah seorang seniman mural beberapa hari yang lalu, tentu semakin memancing masyarakat dan seniman di Jogja, bahkan di kota lain untuk bersikap lebih reaksioner.

Sebagai kota seni, kenapa seniman sampai harus di pidana kan gara-gara membuat sebuah mural yang dirasa membahayakan kredibilitas pemerintah Jogja? Ini sudah bukan jaman orde baru, kenapa pemerintah Jogja tidak membuka jalan 2 arah dengan mediasi contoh nya? Kenapa juga sampai sekarang tidak ada komentar sedikit pun dari bapak Walikota yang terhormat tentang semua kritik dan kegelisahan warga kota selama ini? 


Loyalitas Tanpa Batas: Euforia Berlebihan Kelompok Suporter di Indonesia

Read more » | 2 Comments »



Slogan yang sering digaungkan oleh supporter fanatik tim sepakbola yang paling dibanggakan di kota Malang ini ternyata sedikit banyak ada benar nya juga.  Dimanapun Arema bertanding, kelompok supporter ini hampir dipastikan selalu hadir di stadion untuk mendukung tim kebanggaan nya, dan siapa juga yang tidak tau reputasi supporter bola yang satu ini di Indonesia. Tapi tidak banyak yang tau reputasi mereka diluar stadion, terutama pendapat dari masyarakat umum kota Malang seperti saya yang kadang merasa terganggu oleh tindakan mereka.

Hand Made Zine Fair 2013, Ketika Zine Tidak Hanya Dinikmati Oleh Kalangan Tertentu

No Comments »

Teman – teman dari Jogjakarta Zine Attak!  dan Magic Finger Syndicate  melangsungkan pameran zine dan bazzar pada tanggal 13 – 14 Juli 2013 yang bertempat di Kedai Belakang, Taman Siswa Yogyakarta. Ini adalah agenda tahunan yang di gelar rutin oleh Jogjakarta Zine Attak.
Tujuan dari acara ini adalah memperkenalkan zine kepada khalayak umum dimana selama ini zine masih dikenal sebagai media propaganda underground, dan dengan adanya acara semacam ini membuktikan zine bukan hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi masyarakat umum juga dapat menikmati nya.  Dikarenakan seiring perkembangan jaman, materi yang dimuat di dalam zine sudah berkembang dengan luas tidak hanya mengandung konten yang berbau underground saja.
Meskipun saya baru sempat datang di hari kedua ( hari minggu), tetapi slot workshop yang dibawakan oleh Arie dari netlabel Mind Blasting tidak saya sia-sia kan. Tema dari workshop singkat selagi menunggu waktu untuk berbuka puasa itu adalah Optimalisasi MS Word. Optimisasi untuk apa? Tentu nya untuk membuat zine.
Selepas workshop, mas Arie meluangkan sedikit waktunya disela obrolan dengan Keke dan Indra Amenk(Secret Agent) untuk berbincang  santai dengan saya. Pesan yang ingin beliau sampaikan dengan membuat workshop singkat tersebut adalah kreatifitas dalam mengerjakan sesuatu jangan sampai terbatasi oleh alat dan fasilitas. Selama ini orang sudah sangat nyaman menggunakan software – software branded untuk membuat desain ataupun layouting, namun masalah yang kemudian sering muncul adalah ketika fasilitas ataupun software – software tersebut tidak ada, maka kreatifitas para membuat zine sering kali terhambat. Itu yang berbahaya menurut beliau.
Rata-rata MS Word sudah menjadi piranti lunak standart yang ada di setiap komputer ataupun notebook, dan sebenarnya hanya dengan menggunakan piranti tersebut kita sudah dapat membuat sebuah zine, karena fasilitas seperti insert image dan layouting sudah ada didalam nya. Beliau juga memberikan contoh pembanding kecil dengan memutarkan video, dimana video itu menampilkan seseorang yang membuat sketsa gambar lukisan Monalisa dengan menggunakan software pengolah gambar bawaan MS Windows, Paint.  Dengan software yang sangat sederhana tersebut, ternyata bisa juga menghasilkan gambar ilustrasi lukisan Monalisa yang menarik, tidak harus dengan menggunakan software – software standart untuk picture editing yang sudah banyak beredar.
Terlepas dari tema workshop  dan obrolan santai dengan Arie Mind Blasting tersebut, saya juga mengobrol sedikit dengan Indra Menus, salah satu inisiator dari acara ini. Menurut beliau, tidak alasan untuk tidak membuat media mu sendiri dengan cara yang kreatif. Contoh sederhana, zine konvensional dibuat hanya dengan menggunakan stensil dan potongan – potongan majalah bekas yang di susun sedemikian rupa dan kemudian di fotokopi untuk memperbanyak dan disebarkan ke khalayak luas. Namun saat ini bentuk zine sudah beraneka ragam, bahkan selembar kertas pun bisa dinamakan zine jika materi yang disampaikan memenuhi konten – konten yang dibutuhkan di dalam membuat zine itu sendiri. Dari segi materi yang disajikan juga sudah beraneka ragam, bisa tentang tema sosial, bahkan salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta sudah memiliki komunitas zine sendiri dimana materi yang mereka sajikan tidak jauh dari isu – isu akademis yang beredar disekitar kampus mereka. Dijaman digital dan modern seperti sekarang ini, penyebaran zine juga sudah beraneka ragam, yaitu dengan memanfaatkan fasilitas internet. Digitalisasi zine perlu juga menurut saya, selain dari segi penyebaran nya akan jauh lebih luas, pengarsipan data nya juga akan jauh lebih mudah daripada mengoleksi  zine yang berbentuk fisik.
Kontinuitas dan konsistensi di dalam memproduksi zine di setiap edisi nya juga penting, karena dengan begitu secara tidak langsung akan tumbuh rasa curious dari setiap pembaca nya dimana akan selalu menanti terbitnya zine untuk edisi – edisi berikut nya. Jadi tunggu apa lagi? Mari bikin media publikasimu dengan cara mu sendiri.

Ketidak Sengajaan Bertemu dengan Teman Bercerita, Iksan Skuter

No Comments »


Sebelumnya saya tidak pernah mengenal sosok orang ini, IksanSkuter? Siapa sih dia, namanya kok aneh sekali ya? Awal pertemanan kami sangat tidak disengaja, beliau adalah seorang musisi di Ibukota yang lebih banyak menulis lirik tentang fenomena sosial carut marutnya bangsa ini. Beliau juga pernah tampil di TV One, dan sebelumnya menjadi salah satu member dari band pop mainstream, Putih.

Bulan lalu kalo tidak salah, saya mendapat email dari manager dia, Bagus Dakar kalau beliau akan perform di Jogja di acara besutan ICW (Indonesia Corruption Watch) di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta. Tertulis di pesan elektronik tersebut jika dimungkinkan bisa dilakukan interview oleh media saya, dan beliau juga bersedia untuk memberikan beberapa CD Iksan Skuter (LP) secara cuma-cuma sebagai sampel.

Saya jadi tambah penasaran dengan orang ini, sempat saya browsing dan menemukan single nya yang berjudul "Partai Anjing" yang dirilis gratis di album kompilasi Perangkap Tikus, masih besutan dari ICW juga.

Meskipun sebenarnya saya tidak terlalu berminat dateng ke SADAR hari itu karena Jogja sedang dilanda hujan, akhirnya saya datang kesana juga dan menemui orang ini. Setelah bertemu, ternyata orang ini berasal dari daerah asal saya, Malang tapi merantau ke Ibukota. Kami pun mulai interview ditempat beliau menginap, karena memang saya diajak kesana dan terpaksa melewatkan MORFEM malam itu.

Interview yang malah berujung seperti obrolan 2 orang kawan lama berlangsung sangat santai dan menggunakan bahasa sehari-hari kami (Malangan), mungkin karena kami berasal dari satu daerah  dan sama-sama menjadi perantau, jadi  kami bisa jadi lebih nyambung secara emosional. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi waktu itu.

Banyak cerita menarik dari orang ini, beliau mulai menceritakan kisahnya saat masih di band Putih, carut marutnya dunia label industrial di Indonesia, sampai bagaimana dia bisa memutuskan ke jalur indie seorang diri dengan semua keterbatasan finansialnya.  Saya salut dengan perjuangan hidup orang ini, beliau masih bisa bertahan ditengah kerasnya Ibukota, berpisah untuk mencari sesuap nasi di Jakarta dengan istri dan anaknya yang masih berusia 8 bulan yang dia tinggal di Bandung  dan hanya mengandalkan Vespa PTS yang sudah uzur untuk mobilisasi disana.

Sebulan berselang, saya berjumpa lagi dengannya di Jogja, namun dalam suasana yang berbeda. Kejadian Festival musik Locstock 2 yang sangat membuat hitam dunia musik di Indonesia beberapa hari lalu kembali membuka mata saya, yang sebelumnya sempat men judge event ini sangat lah busuk karena persiapan dan pelaksanaannya sangat kacau balau, dan berujung kematian dari ketua panitia karena bunuh diri. Namun, teman baru saya ini ternyata memiliki pola pikir berbeda mengenai hal tersebut. Beliau iklas dengan semua kekurangan fee yang belum dibayar, dan malah berempati kepada ketua panitia dari event ini. Sosok seperti ini sangat jarang ada dibanding pengisi acara lain yang masih ribut mempermasalahkan kekurangan pembayaran fee mereka. Beliau hanya tersenyum sambil menghisap rokok kreteknya dan menyeruput kopi hitam kesukaannya sembari berkata: Utangmu tidak sebanding dengan nyawamu bung. Demikian sepatah kata  yang terucap dari mulutnya saat saya bertanya bagaimana perasaan dia setelah datang ke Jogja dan batal main dengan pembayaran fee yang tidak jelas.

Meskipun banyak orang yang belum pernah mendengar dan tahu akan Iksan Skuter, saya yakin tidak perlu waktu lama untuk membuat orang ini dikenal oleh publik. Musikalitas beliau bagus, lirik yang keras dan lugas dalam mengangkat tema sosial di Indonesia, perform yang interaktif dengan penonton,  kesederhanaan secara pribadi juga dimiliki nya semua. I think you will be the next rising star, sam!