Berhala Modern Itu Bernama Nasionalisme


Suatu siang yang terik di bulan puasa, Narto dan Sukidi bertemu di sebuah warung makan di desa Sukakami, niat nya mereka  mau menunggu waktu berbuka puasa tapi apa daya pengaruh dari Mak Mijan, pemilik warung yang mengiming-imingi menu Mangut Lele membuat syahwat mereka berdua tergoda juga.


Sukakami adalah desa kecil di sebuah lereng gunung berapi, dan terletak di sungai aliran lahar dari gunung tersebut. Masyarakat disana hidup sangat sederhana dan kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani salak (cuma buah salak yang bisa tumbuh disana) dan sisanya mengais rejeki di sungai aliran lahar sebagai pencari pasir untuk di jual ke para tengkulak dengan harga yang engga masuk akal (murahnya). Narto dan Sukidi yang juga bermata pencaharian sebagai petani salak sama seperti kebanyakan warga desa yang lain, setiap selasa wage selalu sowan ke petilasan mbah Juminem di kaki gunung, sekedar berdoa dan mengharap rejeki agar panen salak mereka berikutnya lancar dan membawa berkah.

Mak Mijan sebagai orang pendatang dan berpemikiran sedikit lebih modern, kadang tidak setuju dengan ritual sowan yang di lakukan warga desa tersebut. Di siang yang terik itu, Mak Mijan nyerocos tentang nasionalisme ke mereka berdua, yang cuma ditimpali Narto dan Sukidi dengan manggut-manggut selagi menikmati lele mangut di piring yang nasi nya boleh ambil sendiri dengan bebas tapi bersyarat itu. Kalian ini lak yo wis urip neng jaman modern to lik, wis duwe agomo ngopo dadak ritual koyo ngono kui, kui jengene nyembah berhala! (kalian itu kan sudah hidup di jaman modern, kenapa harus melakukan ritual seperti itu, sama juga nyembah berhala) timpal Mak Mijan.

Wis to Mak, ora ono rugi ne to yo nggo kowe, sing penting masyarakat kene yo diberkahi panen soko Gusti, desa ne tetep adem ayem koyo saiki lak yo wis berkah banget kui, mbah Juminem itu lak yo sing dituwokke neng kene, corone sing mbau rekso, yo ra ana salah e awak dewe tetep menghormati beliau (Sudahlah, engga ada rugi nya juga to buat kamu, yang penting masyarakat tetap dapet berkah panen dari Gusti, desa tentram seperti sekarang ini kan ya sudah berkah, mbah Juminem itu kan ya orang yang di tua kan disini, ya ga ada salah nya kita tetap menghormati beliau) timpal Narto yang disambut anggukan dari Sukidi, meskipun nasi masih belepotan di pipi mereka saking lahapnya makan.

Wis rasah do rame, ra sah melu-melu uwong-uwong kutho kae, sing do rame dewe-dewe ming bahas koyo ngene iki, mbuh nasionalisme berhala opo kui mau koyo sing neng tivi, ngurusi awak e dewe wae yo durung bener, wis do arep ngurusi uwong liyo.. Kene wong cilik yo tetep ayem urip koyo ngene kok kono sing wis luwih beruntung keadaan e malah reko-reko koyo ora ono gawean wae, bener to Mak? (Sudahlah ga usah pada rame, ga usah ikut-ikut orang kota itu, yang pada rame kaya sekarang ini, entah bahas nasionalisme berhala atau apapun itu seperti yang di televisi, mengurus diri sendiri saja belum benar, sudah mau mengurusi orang lain. Kita orang kecil ya tetap menikmati hidup seperti ini, mereka yang keadaannya lebih beruntung kok malah seperti itu kaya ga ada kerjaan aja, bener kan Mak?)  ujar Sukidi.

Wis yo Mak iki wis sore, aku arep neng kebon sek tilik salak, tagihan e digabung karo sing minggu lalu wae, sesuk tak bayar,  dan disambung langkah dari Narto dan Sukidi yang meninggalkan warung Mak Mijan begitu saja.










This entry was posted on August 13, 2012 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply